LATAR BELAKANG PENDIRIAN PROGRAM UNGGULAN ISLAMIC BOARDING COLLEGE OF ACCOUNTING AL-ES’AF (PESANTREN AL-ES'AF)
a. Etika
Salah satu dari empat hal pokok akuntansi (Building Blocks of Accounting) adalah etika. Etika merupakan suatu standar penilaian baik-buruknya suatu hal. Di dalam akuntansi, masalah etika menjadi isu pokok dalam Pelaporan Keuangan, Audit, serta Sistem Pengendalian Manajemen. Pemakai informasi akuntansi terdiri dari berbagai kalangan, seperti direktur, manajer keuangan, marketing, pegawai, konsumen, pemerintah, auditor, pegawai pajak, dan kreditur. Pengambilan keputusan yang mendasarkan keputusannya pada informasi akuntansi tentunya membutuhkan informasi yang “benar” atau “beretika”. Kesalahan dalam pengambilan keputusan bisa disebabkan oleh ketidakbenaran informasi yang masuk ke tangan si pengambil keputusan sehingga menghasilkan berbagai macam dampak. Hal ini sesuai dengan HR Bukhori:
“Allah memberikan rahmat-Nya pada setiap orang yang bersikap baik ketika menjual, membeli, dan membuat suatu pernyataan“
Oleh karena itu, baik akuntan maupun perusahaan wajib memberikan informasi yang sejujur-jujurnya kepada para pemakai informasi akuntansi.
Krisis moneter yang menghampiri bangsa Indonesia tahun 1997 salah satunya disebabkan oleh akuntan-akuntan yang tidak memiliki integritas dan moralitas. Akuntan tersebut kemana-mana membawa pena dan dengan mudahnya memberikan penilaian wajar dan sehat terhadap laporan keuangan perusahaan serta kinerja perusahaan. Perusahaan yang sebenarnya sudah bobrok kelihatan maju, perusahaan yang hanya mampu mengambil kredit maksimal 1 Milyar, misalnya, diperbolehkan mengambil kredit hingga 3 Milyar, selain itu kredit yang diambil tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.
Sesuai dengan motto, maka seluruh civitas akademika diarahkan untuk mencetak akuntan yang “beretika”. Untuk menjadi akuntan beretika yang memiliki integritas dan moralitas tinggi tidaklah mudah, apalagi masyarakat Indonesia sudah cenderung memiliki budaya korup. Oleh karena itu, diperlukan sebuah komunitas dan lingkungan yang mendukung terciptanya idealisme tersebut. Sistem pondok pesantren dinilai sangat tepat untuk menggembleng masalah etika. Etika tidak hanya diperoleh melalui kegiatan kelas dan ceramah keagamaan. Sholat tahajud dan menghafal Al-Qur’an, yang merupakan ciri khas pesantren, merupakan langkah-langkah yang dengan sendirinya akan membentuk pribadi yang beretika.
b. Perkembangan Akuntansi Syariah
Bank Indonesia (2004) melaporkan bahwa di Indonesia telah berdiri 10 bank syariah (baik bank umum maupun windows bank umum), yaitu BMI, BNI, BSM, Bukopin, BPD Jabar, Bank IFI, BRI, Danamon, BII dan BPD DKI dengan sekitar 85 kantor cabang. Selain itu di berbagai daerah juga telah bermunculan BPR Syariah dengan jumlah mencapai 88 bank. Sedangkan dari lantai pasar modal, sejak 14 Maret 2003 telah muncul pasar modal syariah dengan instrumennya Jakarta Islamic Index. Pada akhir tahun 2004 jumlah obligasi syariah telah bertambah dari semula enam emiten menjadi tigabelas emiten dengan nilai total emisi mencapai Rp 1,382 Triliun. Sedangkan reksadana syariah juga mengalami peningkatan pesat dari semula tiga reksadana meningkat menjadi sepuluh reksadana dengan nilai total aktiva bersih mencapai Rp 413,9 Miliar (Bapepam, 2004). Perkembangan Islam dalam perbankan dan pasar modal tersebut masih diikuti dengan munculnya pegadaian Syariah, Asuransi Syariah, serta BMT.
Sayangnya perkembangan tersebut kurang direspon baik oleh para ulama maupun ummat Islam sendiri. Beberapa ulama justru berbeda pendapat tanpa memberikan solusi yang jelas, hal ini merupakan suatu hal yang ironis. Apabila dibandingkan dengan ulama Malaysia, ulama Indonesia bisa dikatakan kurang kompak dalam menyikapi hal ini. Maka jangan heran, aset seluruh bank syariah hanya sekitar 4% dari seluruh bank yang ada di Indonesia, padahal Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.
Mahasiswa pesantren Al-Es’af akan diarahkan untuk mengembangkan Akuntansi Syariah. Dengan kemampuan dasar fiqh dan bahasa Arab yang sudah diterima pada level pendidikan sebelumnya, mahasiswa Al-Es’af akan lebih mudah mengembangkan Akuntansi Syariah.
c. Investor Timur Tengah
Pada pemerintahan orde baru, banyak duta besar yang ditempatkan di wilayah timur tengah cenderung beliau-beliau yang tidak bisa berbahasa Arab. Namun setelah era orde baru tumbang, paradigma Indonesia mulai beralih. Hal ini terbukti dengan diangkatnya Bapak Alwi Shihab sebagai duta Indonesia khusus untuk wilayah Timur Tengah. Hal tersebut merupakan sinyalemen dari Pemerintah Indonesia yang menginginkan terciptanya kerjasama dan investasi yang lebih intensif dari Timur Tengah. Oleh karena itu Al-Es’af akan berusaha menghasilkan akuntan yang “beretika”, militan, serta lancar berbahasa Arab dan Inggris sebagai penyuplai tenaga kerja investor dari Timur Tengah.
d. Kondisi Ummat Islam
Ummat Islam di negara berkembang di seluruh dunia cenderung mengalami masalah yang sama, kemiskinan, pengangguran, dan korupsi. Berbagai image jelek juga melekat pada ummat Islam. Ummat Islam belum memiliki keunggulan-keunggulan yang patut dibanggakan. Teknologi komunikasi, transportasi, informasi, pengolahan SDA, dan sumber-sumber lainnya masih banyak dikelola oleh Barat. Oleh karena itu, program Pesantren Al-Es’af didirikan untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa program pesantren dan ummat Islam bisa menghasilkan prestasi dan karya yang bernilai. Kedepannya, program pesantren Al-Es’af bisa menjadi rujukan ekonomi Islam.